Sunday, April 06, 2025

Tuesday, September 20, 2011

Buyung: Yudhoyono Harus Belajar dari Soekarno

Dalam dunia sekarang ini, tampaknya hampir semua topik terbuka untuk diperdebatkan. Sementara aku sedang mengumpulkan fakta untuk artikel ini, saya cukup terkejut menemukan beberapa masalah yang saya pikir diselesaikan sebenarnya masih dibicarakan secara terbuka.
JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Adnan Buyung Nasution, di Jakarta, Selasa (20/9/2011), menyarankan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencontoh Presiden Soekarno saat melakukan perombakan kabinet (reshuffle)  tahun 1959-1960.

Untuk memperkuat kepemimpinannya, Presiden Soekarno saat itu merombak kabinet dengan memasukkan orang yang sangat dipercayainya untuk membantu. Mereka, adalah Juanda, Leimena, dan Chairul Saleh yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka bertiga membantu Presiden untuk mengefektifkan jalannya pemerintahan dan kepemimpinan nasional.

Menurut Adnan Buyung, ada persoalan kepemimpinan dalam pemerintahan Yudhoyono. Kelemahan Presiden ini tidak bisa diharapkan tertutup oleh kemampuan Wakil Presiden Boediono.

Mereka dari Anda tidak akrab dengan yang terakhir pada
sekarang memiliki setidaknya pemahaman dasar. Tapi ada lagi yang akan datang.

"Karena itu, Presiden perlu melakukan perombakan total cabinet, bukan hanya reshuffle. Ia harus memilih orang-orang yang kredibel, kompeten, dan dipercayai masyarakat untuk membantunya. Orang-orang ini yang akan membantu Yudhoyono untuk mengatasi kekurangan pemerintahan ini dalam soal kepemimpinan," katanya lagi.

Adnan Buyung mengakui, perombakan cabinet saat ini merupakan keniscayaan, apabila Yudhoyono ingin memerintah dengan baik, dan kepercayaan masyarakat tumbuh, hingga tahun 2014. Dengan mengangkat orang-orang yang kredibel, mumpuni, dan dipercayai masyarakat, kredibilitas pemerintahan Yudhoyono akan naik kembali.

Dalam kabinet juga akan dialog untuk membahas pembangunan yang harus dilakukan, dan bukan tanpa kejelasan arah seperti yang saat ini terjadi.

Diakui Adnan Buyung, yang juga advokat senior, saat ini rakyat sesungguhnya tidak merasakan eksistensi negara atau pemerintah. Negara tak hadir dalam kehidupan masyarakat, karena lemahnya kepemimpinan nasional dan pemerintah.

Anda tidak dapat memprediksi kapan mengetahui sesuatu yang ekstra tentang
akan berguna. Jika Anda belajar sesuatu yang baru tentang
dalam artikel ini, Anda harus file artikel di mana Anda dapat menemukannya lagi.
Related Posts with Thumbnails
Powered By Blogger