JAKARTA, KOMPAS.com " Sejumlah aktivis antikorupsi menggelar aksi cukur rambut hingga botak di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi Jakarta, Jumat (9/9/2011). Aksi tersebut sengaja dilakukan tepat pada hari ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang jatuh pada hari ini, sekaligus sebagai bentuk dukungan terhadap KPK menuntaskan kasus wisma atlet yang melibatkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin. "Ini, kan, memberikan penghargaan, kado kepada Pak SBY sekaligus mengingatkan KPK yang selalu kita support, maksudnya agar kasus itu harus segera dituntaskan," ujar salah satu aktivis, Effendi Ghazali, di Gedung KPK Jakarta. Effendi menjelaskan, para aktivis berharap penuntasan kasus Nazaruddin di KPK tidak lebih lama dari waktu yang dibutuhkan rambut untuk tumbuh setelah dicukur hari ini. "Jangan sampai sejak dari botak sampai tumbuh lagi kasusnya belum selesai-selesai. Adu cepat antara rambut yang tumbuh dan penuntasan kasus Nazaruddin," ucapnya. Benar-benar ide yang baik untuk menyelidiki sedikit lebih dalam subjek
. Apa yang Anda pelajari dapat memberikan kepercayaan diri yang Anda butuhkan untuk usaha di daerah baru.
Aksi dimulai dengan menggunduli kepala aktivis Koalisi Masyarakat Antikorupsi (Kompak) Fadjroel Rachman. Menurut Effendi, Fadjroel pernah berjanji akan menggunduli kepalanya jika Nazaruddin tertangkap dan diberhentikan dari keanggotaan DPR. "Nazaruddin diberhentikan dari parpol, diberhentian dari DPR, ditangkap, pulang, maka Fadjroel akan mbotakkan kepalanya," katanya. Adapun yang menggunting rambut Fadjroel secara simbolik pertama kali adalah Guru Besar Universitas Indonesia Thamrin Amal Tagomala. Sosiolog itu menggunting rambut Fadjroel tidak dari pinggir melainkan dari tengah kepala. Alasannya, agar KPK memulai pemberantasan korupsi dengan menyisir para elitenya terlebih dahulu baru kemudian kroco-kroconya. "Pertama kita akan mulai mencukur dari atas tengah dengan harapan penanganan kasus oleh KPK dimulai dari elitenya. Kemudian langsung dihabiskan ke belakang seperti jalan tol dengan harapan kasus ditangani secara tuntas tanpa halangan," ungkap Thamrin. Setelah Fadjroel, rencananya tujuh aktivis lainnya, yakni Thamrin, KH Maman, Dwi Pudjo Soekamto (pelukis), Ridwan, Firman Abadi, Pingit Widodo, Iwan Piliang Doto Muharto (budayawan) akan digunduli. Saat mendatangi Gedung KPK, para aktivis itu mengenakan kaus putih seragam bertuliskan "Merdeka dari Korupsi, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak). Sebelum pemotongan rambut, para aktivis juga membentangkan spanduk putih dengan tulisan yang sama dan memotong tumpeng.
Aksi dimulai dengan menggunduli kepala aktivis Koalisi Masyarakat Antikorupsi (Kompak) Fadjroel Rachman. Menurut Effendi, Fadjroel pernah berjanji akan menggunduli kepalanya jika Nazaruddin tertangkap dan diberhentikan dari keanggotaan DPR. "Nazaruddin diberhentikan dari parpol, diberhentian dari DPR, ditangkap, pulang, maka Fadjroel akan mbotakkan kepalanya," katanya. Adapun yang menggunting rambut Fadjroel secara simbolik pertama kali adalah Guru Besar Universitas Indonesia Thamrin Amal Tagomala. Sosiolog itu menggunting rambut Fadjroel tidak dari pinggir melainkan dari tengah kepala. Alasannya, agar KPK memulai pemberantasan korupsi dengan menyisir para elitenya terlebih dahulu baru kemudian kroco-kroconya. "Pertama kita akan mulai mencukur dari atas tengah dengan harapan penanganan kasus oleh KPK dimulai dari elitenya. Kemudian langsung dihabiskan ke belakang seperti jalan tol dengan harapan kasus ditangani secara tuntas tanpa halangan," ungkap Thamrin. Setelah Fadjroel, rencananya tujuh aktivis lainnya, yakni Thamrin, KH Maman, Dwi Pudjo Soekamto (pelukis), Ridwan, Firman Abadi, Pingit Widodo, Iwan Piliang Doto Muharto (budayawan) akan digunduli. Saat mendatangi Gedung KPK, para aktivis itu mengenakan kaus putih seragam bertuliskan "Merdeka dari Korupsi, Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak). Sebelum pemotongan rambut, para aktivis juga membentangkan spanduk putih dengan tulisan yang sama dan memotong tumpeng.