Washington (ANTARA News) - Kini seiring kemampuan Iran yang pada prinsipnya mampu mengembangkan senjata nuklir, sasaran kebijakan AS seharusnya membujuk Iran agar tidak mengambil langkah yang berakibat serius yakni membuat senjata, desak sebuah studi yang dirilis Selasa. Dan jika kebijakan itu gagal, Amerika Serikat, yang disponsori Angkatan Udaranya, harus punya strategi yang berhasil menakuti Iran yang memiliki senjata nuklir.

"Masih ada waktu untuk membujuk Iran agar tidak membuat senjata dalam program nuklirnya," kata Alireza Nader, salah satu penulis laporan itu, "Masa Depan Nuklir Iran: Pilihan Kebijakan AS yang Kritis."

Laporan tersebut mencerminkan pergeseran kebijakan sejumlah kalangan AS terkait bagaimana mengatasi Iran karena sanksi internasional yang menggunung terhadap rezim telah gagal membalikkan arah program nuklirnya.

Desakan agar dilakukan serangan militer untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran telah memudar karena implikasi atas wilayah tersebut tidak menggembirakan. Bahkan komentar seorang mantan kepala intelijen di Israel, yang telah lama memandang Tehran sebagai ancaman nyata, mengekspose keragu-raguan soal bagaimana mengatasi ancaman tersebut.

Yang lebih memperumit pilihan kebijakan AS adalah Kebangkitan Arab, yang akan mendorong rezim-rezim di negara-negara yang kini ketempatan pasukan AS lebih menyukai pendekatan lebih lunak terhadap Iran.

Laporan RAND itu mengatakan Iran secara prinsip telah memperoleh material, peralatan dan teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan senjata nuklir.

"Upaya internasional untuk mengawasi ekspor dan melarang perdagangan kini diharapkan hanya memperlambat kemajuan Iran dan mungkin menghalangi Iran memperoleh teknologi spesifik yang dibutuhkan, misalnya, miniaturisasi hulu ledak nuklir dan pemasangan hulu ledak pada rudal.

"Jadi, tindakan Iran yang ingin dibujuk Amerika Serikat di kemudian hari adalah menjadikan  nuklir sebagai senjata," kata laporan itu.

Argumen para penulis laporan tersebut ialah bahwa terdapat faksi dan pribadi di Iran yang berbeda pandangan mengenai apakah harus "mempersenjatakan" program nuklir negara itu, serta tekanan AS dan internasional masih dapat mempengaruhi hasil perdebatan tersebut.

"Kami tahu target semacam itu menghadapi hambatan yang sungguh-sungguh serius namun yakin terlalu dini untuk berhenti mencoba," kata Lynn Davis, mantan wakil menteri luar negeri urusan  pengawasan persenjataan dan keamanan internasional yang memimpin studi tersebut.

"Masih mungkin dalam pandangan kami untuk mempengaruhi hasil perdebatan politik internal di Iran," katanya.

Lihat berapa banyak Anda dapat belajar tentang
ketika Anda mengambil sedikit waktu untuk membaca sebuah artikel baik diteliti? Jangan lewatkan pada sisa informasi yang besar ini.

"Pada dasarnya pandangan kami adalah -- yang dipegang oleh komunitas intelijen -- bahwa Iran belum akan membuat suatu keputusan berkaitan dengan program nuklirnya," katanya melalui telepon konferensi.

Menggaungkan laporan itu, dia menekankan perlunya strategi AS yang terintegrasi yang mengantisipasi evolusi program nuklir Iran mendatang, daripada kebijakan "yang kami pahami sekarang ini terutama timbul dari seni kemungkinan."

Sementara laporan tersebut tidak merekomendasikan kebijakan spesifik, ia menganalisis pro dan kontrah berbagai stategi untuk membujuk Iran agar tidak "mempersenjatai diri," dan bagaimana mereka mungkin menyesuai dengan mitra-mitra AS di wilayah itu.

Ini mencakup berbagai bentuk sanksi dan langkah militer yang dapat diambil untuk menunjukkan kepada Iran bahwa negara itu akan membayar harga serta tidak akan memperoleh apa-apa akibat langkah yang berakibat serius itu.

Namun strategi itu memasukkan satu bab soal menakuti Iran jika negara itu benar-benar memiliki senjata nuklir, baik mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai sebuah negara nuklir atau mempertahankan sikap mendua dengan tidak mengaku memiliki senjata nuklir.

Diantara langkah militer yang mungkin yang disarankan dalam laporan itu ialah latihan dan penempatan temporer pesawat pembom berkemampuan nuklir di wilayah itu, serta penugasan aset berkemampuan nuklir yang bertujuan perencanaan guna merespon penggunaan senjata nuklir Iran.

Guna menghalangi Iran mendapatkan keuntungan dari pengembangan senjata nuklir, Amerika Serikat dapat mengupayakan kemampuan untuk mencari, melokalisir dan menghancurkan senjata Iran sebelum diluncurkan, kata laporan itu.

Laporan itu juga memberikan saran untuk Angkatan Udara AS: rancang latihan yang menunjukkan AS dapat menjadikan kemampuan nuklir Iran berisiko, namun sensitif terhadap bagaimana pamer kekuatan seperti itu dapat mempengaruhi perdebatan internal di Iran.

"Oleh karena terdapat prospek bahwa Iran dapat mengembangkan senjata nuklir, baik kemampuan virtual maupun kemampuan nyata, inilah saatnya bagi Amerika Serikat dan negara lain untuk mulai berpikir tentang bagaimana mencegah, sekali lagi mempengaruhi Iran akan potensi penggunaan senjata nuklirnya," kata Davis.

"Saya menduga ada sebuah rencana yang sedang berlangsung, namun arti kami di sini adalah membantu para perencana tidak hanya di sini di Amerika Serikat namun di seluruh dunia supaya berpikir ke depan," katanya, demikian AFP melaporkan. (ANT/K004)

Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com