Wakil Ketua Kadin Bidang Hukum Bambang Soesatyo. (FOTO.ANTARA)

Jakarta (ANTARA  News) - Anggota Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo memastikan komisi ini mendukung berbagai upaya hukum Perum LKBN ANTARA dalam mengembalikan Wisma ANTARA sebagai aset negara dari tangan pengelolanya saat ini. "Sejauh terkait dengan kepentingan mengembalikan aset-aset negara yang harus dikuasai negara, Komisi III pasti akan mendukungnya," ujarnya seusai menjadi pembicara dalam diskusi Dialektika Demokrasi di ruang wartawan DPR Jakarta, Kamis.

Dalam konteks gugatan Perum LKBN ANTARA kepada Joko Tjandra terkait pengambilalihan Wisma ANTARA, menurut politisi Partai Golkar itu, pihaknya juga akan memberi dukungan sepenuhnya kepada ANTARA namun sebelumnya Komisi III harus mendalami permasalahan itu.

"Kami akan meminta penjelasan kepada Jaksa Agung terkait upaya pengambilalihan Wisma ANTARA dalam rapat kerja terdekat dengan Komisi III. Apa saja upaya yang telah mereka lakukan sebagai jaksa pengacara negara itu," ujarnya.

Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA berencana mengajukan gugatan kepada Joko Tjandra selaku pemegang saham mayoritas PT ANPA Internasional yang mengelola Gedung Wisma ANTARA.

Bagaimana Anda bisa mencanangkan batas belajar lebih banyak? Bagian berikutnya mungkin berisi bahwa salah satu sedikit kebijaksanaan yang mengubah segalanya.

Terkait dengan rencana itu, direksi ANTARA telah mengajukan Surat Kuasa Khusus (SKK) kepada Kejaksaan Agung untuk memintanya menjadi Jaksa Pengacara Negara (JPN).

Selanjutnya Jaksa Agung Basrief Arief telah menugaskan Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara untuk mengembalikan Gedung Wisma ANTARA di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, kepada negara.

Saat ini Wisma ANTARA yang terletak di Jalan Merdeka Selatan 80 persen sahamnya dimiliki oleh PT Mulia Grup milik Joko Tjandra. Sedangkan 20 persennya dikuasai ahli waris para pendahulu pimpinan Perum LKBN ANTARA.

Joko Tjandra sendiri saat ini menjadi buronan Tim Pemburu Koruptor dalam kasus cessie Bank Bali dan diduga kuat berada di Singapura setelah melarikan diri saat hendak dieksekusi pascaputusan Peninjauan Kembali (PK) yang memvonisnya dengan dua tahun penjara.(*)

D011/R007

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © 2011

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com